Marriage agreement in a positive legal perspective on inheritance division
Main Article Content
Abstract
This study examines the legal position and implications of marriage agreements in the division of inheritance within the Indonesian legal system. A marriage agreement, as regulated in the Civil Code and Law Number 1 of 1974 concerning Marriage, provides autonomy for spouses to arrange the separation of property based on the principle of freedom of contract, while still adhering to legal requirements and public order. Using a normative juridical approach, this research analyzes relevant laws, legal doctrines, and scholarly literature to understand the impact of such agreements. The findings reveal that marriage agreements have both internal implications between spouses and external implications involving third parties, particularly in matters of debt liability and inheritance distribution. Despite offering legal certainty, the application of marriage agreements remains limited by juridical constraints to ensure fairness and balance. The study highlights the need for regulatory reform to better accommodate evolving social dynamics and recognize both monetary and non-monetary contributions in household life, thereby promoting substantive justice in inheritance division.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
References
Bagenda, C. (2021). Tinjauan tentang perjanjian perkawinan dalam pandangan hukum nasional. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 4(1), 258–268.
Butarbutar, T. M., Erdawati, L., & Sitorus, Y. L. (2024). Konsep pembagian harta warisan bersama apabila suami atau istri meninggal dunia. Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik, 1(2), 272–278. https://doi.org/10.62379/q94x2h05
Endoh, R. M. (2018). Legal consequences of marriage agreements on inheritance property. Lex Privatum, 6(5), 89–97.
Farid, A., & Suhessyani, A. E. (2022). Perlindungan hukum terhadap harta dalam perkawinan dengan pembuatan akta perjanjian kawin. Judiciary: Jurnal Hukum dan Keadilan, 11(1), 20–34.
Hamid, D. (2016). Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban kejahatan perdagangan orang (trafficking) (studi kasus di Pengadilan Negeri Surabaya). Jurnal Hukum dan Keadilan, 5(1), 91–115.
Jayanti, H. D. (2025, April 1). Pembagian harta bersama tidak selalu dibagi rata dalam perceraian. Hukumonline. https://www.hukumonline.com/berita/a/pembagian-harta-bersama-tidak-selalu-dibagi-rata-dalam-perceraian-lt67ec1d15a28dc/
Koto, I., & Faisal, F. (2021). Penerapan eksekusi jaminan fidusia pada benda bergerak terhadap debitur wanprestasi. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 4(2), 774–781. https://doi.org/10.34007/jehss.v4i2.739
Ma’rifat, M. A. (2024). Penggunaan harta bersama (gono-gini) harus melalui persetujuan suami dan istri. Justicia Journal, 13(2), 232–255. https://doi.org/10.32492/jj.v13i2.13210
Mahadewi, I. A. P. K., & Putra, D. N. R. A. (2023). Akibat hukum serta penyelesaian terhadap harta bersama berdasarkan hukum perkawinan. Jurnal Kertha Semaya, 9(1), 112–120. https://doi.org/10.24843/KS.2020.v09.i01.p10
Muhaimin. (2020). Metode penelitian hukum. Mataram University Press.
Nafisa, F., & Suparto, S. (2024). Pemisahan harta bersama melalui perjanjian perkawinan yang dibuat oleh pasangan perkawinan campuran setelah perkawinan dilangsungkan dikaitkan dengan Undang-Undang Perkawinan dan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015. J Birokrasi: Jurnal Ilmu Hukum dan Tata Negara, 2(1), 28–40. https://doi.org/10.55606/birokrasi.v2i1.882
Purboningtias, W., Sugijono, & Widiyanti, I. D. (2013). Hubungan perjanjian kawin terhadap pembagian harta waris apabila salah satu pihak meninggal dunia ditinjau dari KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Journal of Private Law, 1–9.
Rifa’i, I. J., Purwoto, A., Ramadhani, M., Rusydi, M. T., Harahap, N. K., Mardiyanto, I., … Surasa, A. (2023). Metodologi penelitian hukum. Sada Kurnia Pustaka.
Sujarweni, V. W. (2014). Research methodology. Pustaka Baru Press.
Syuhada, T. (2019). Pelaksanaan sita jaminan terhadap objek sengketa yang berada di tangan pihak ketiga dalam penanganan perkara perdata. De Lega Lata: Jurnal Ilmu Hukum, 4(1), 42–53. https://doi.org/10.30596/dll.v4i1.3163
Toatubun, H. (2016). Hukum penyelesaian sengketa tapal batas wilayah antara Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori Papua. Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren, 1(1), 49–57.
Yustiaridinia, R. (2017). Kedudukan ahli waris terhadap harta peninggalan dalam perkawinan dengan perjanjian pisah harta (Putusan MA Nomor 804/PK/PDT/2009). [Tesis magister, Universitas Sumatera Utara].